Elena selalu bangga dengan etos
kerjanya. Baginya, jam 22.00 bukan
sekadar angka, melainkan bukti dedikasi. Namun, malam ini, keheningan di lantai
14 terasa berbeda. Bukan sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang
"menunggu".
Bunyi ketikan keyboard-nya
bergema terlalu keras. Elena berhenti sejenak, meregangkan lehernya yang kaku.
Saat itulah ia mendengarnya: suara tawa tertahan dari bilik kubikel di ujung
lorong.
Elena menoleh. Itu kubikel milik Shelly,
rekan kerjanya yang mengundurkan diri secara mendadak dua minggu lalu karena
"masalah kesehatan mental". Lampu di sana mati, namun Elena bisa
melihat siluet kepala yang bergerak naik-turun seirama dengan suara napas yang
berat.
"Shelly? Kau masih di sini?"
tanya Elena, suaranya bergetar.
Siluet itu berhenti bergerak. Perlahan,
sesosok wanita muncul dari balik sekat. Wajahnya pucat pasi, matanya merah
karena kurang tidur, persis seperti cermin dari wajah Elena sendiri. Wanita itu
tidak menjawab, ia hanya menunjuk ke arah layar monitor Elena.
Elena berbalik melihat layarnya.
Dokumen Excel yang tadi ia kerjakan telah berubah. Baris demi baris sel kini
berisi kalimat yang sama berulang kali:
"SIAPA YANG AKAN MENGGANTIKANMU
BESOK?"
Jantung Elena berdegup kencang. Ia
segera menyambar tasnya dan berlari menuju lift. Di dalam lift yang berdinding
cermin, ia mencoba mengatur napas. Namun, saat ia melihat pantulan dirinya, ia
menyadari sesuatu yang mengerikan.
Dalam cermin, Elena tidak sedang
berdiri ketakutan. Pantulannya justru sedang duduk di kursi kantor, mengetik
dengan gila, dengan senyum lebar yang dipaksakan. Elena yang asli menyentuh
wajahnya, tapi ELENA di cermin tetap mengetik hingga jemarinya berdarah.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai dasar. Elena
berlari keluar melewati lobi yang dijaga oleh Pak Satpam tua. "Lembur
lagi, Mbak Elena?" sapa Pak Satpam tanpa mendongak dari korannya.
"Iya, Pak. Saya duluan,"
jawab Elena terengah-engah.
"Hati-hati, Mbak. Jangan sampai
seperti Mbak yang tadi," gumam Pak Satpam.
Elena berhenti mendadak. "Mbak
yang mana?"
"Itu, Mbak yang baru saja lewat.
Katanya dia belum selesai kerja, jadi dia meninggalkan 'dirinya' di atas agar
bisa pulang."
Siklus Abadi
Elena sampai di apartemennya dengan
perasaan mual. Ia segera menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya. Saat ia
mendongak ke arah cermin wastafel, tidak ada pantulan di sana. Kosong.
Ia menyadari dengan ngeri bahwa ia
merasa sangat ringan. Tidak ada beban, tidak ada stres, tidak ada kelelahan. Ia
merasa... hampa.
Di atas meja makannya, terdapat sebuah
nota kecil dengan tulisan tangannya sendiri: “Terima kasih sudah mengambil
alih shift malam selamanya. Aku lelah menjadi produktif. Sekarang giliranmu
yang tetap tinggal di kantor.”
Ponsel Elena bergetar. Sebuah
notifikasi dari aplikasi presensi kantor masuk: "Elena: Status Lembur
Terdeteksi. Lokasi: Lantai 14. Estimasi Selesai: Tidak Terbatas."
Elena menatap tangannya yang mulai memudar menjadi transparan. Di kejauhan, ia seolah mendengar suara ketikan keyboard dari lantai 14 yang memanggilnya pulang.
.....
Elena
tidak pernah keberatan dengan bau kantor yang apek, tapi malam ini, aroma di
Lantai 14 berubah menjadi bau daging yang membusuk di bawah sinar lampu neon.
Jarum
jam menunjukkan pukul 23.45. Elena
sedang menyelesaikan laporan akhir tahun saat printer di pojok ruangan
tiba-tiba menyala sendiri.
Sret...
Sret... Sret...
Kertas
demi kertas keluar. Elena mendekat dan mengambil satu. Bukan grafik angka yang
tercetak, melainkan foto close-up belakang kepalanya sendiri yang sedang
duduk di kursi. Di foto kedua, ada tangan pucat dengan kuku-kuku yang lepas
sedang menjuntai di atas bahunya.
Elena
membeku. Ia takut untuk menoleh.
"Kerja
bagus, Elena..." suara itu serak, seperti tenggorokan yang tersumbat
cairan.
Elena
memberanikan diri melirik ke bawah melalui pantulan layar monitornya yang
gelap. Di bawah mejanya, ia melihat sepasang kaki tanpa kulit, otot-otot
merahnya basah bersentuhan dengan karpet kantor. Sosok itu meringkuk di ruang
sempit tempat Elena meletakkan kakinya.
Dengan
teriakan tertahan, Elena melompat mundur hingga kursinya terguling. Dari bawah
meja, merangkak keluar sesosok wanita yang tubuhnya tertekuk-tekuk secara tidak
alami—seolah tulang-tulangnya telah dipatahkan agar muat masuk ke dalam laci
dokumen. Wajahnya adalah wajah Shelly, rekan kerjanya yang tewas bunuh diri
bulan lalu, namun mulutnya dijahit dengan kawat staples kantor.
"Laporannya...
belum... sempurna..." desis sosok itu.
Arsip
Rahasia Lantai 14
Elena
berlari menuju tangga darurat karena lift tak kunjung datang. Namun, setiap
kali ia menuruni tangga, ia selalu kembali ke lantai 14. Pintu darurat itu
seolah terkunci dalam loop ruang angkasa yang gila.
Ia
terpaksa kembali ke lorong kantor yang kini menggelap. Lampu sensor gerak mati
satu per satu di belakangnya, menyisakan kegelapan yang mengejarnya dengan
cepat.
Klik.
Klik. Klik.
Itu
bukan suara sepatu hak tinggi. Itu suara kuku-kuku panjang yang mengetuk lantai
keramik dengan cepat. Sosok Shelly mengejarnya dengan cara merangkak di
langit-langit, gerakannya patah-patah seperti serangga raksasa. Cairan hitam
kental menetes dari mulutnya yang terstaples, membakar karpet setiap kali
jatuh.
Elena
bersembunyi di dalam ruang arsip, mengunci pintu dan menahan napas di balik
lemari besi. Suasana hening sejenak.
Tiba-tiba,
suara mesin penghancur kertas (paper shredder) di sudut ruangan menyala.
Elena melihat dengan ngeri saat dasi yang ia kenakan—yang ujungnya
menjuntai—mulai tertarik masuk ke dalam mesin itu secara perlahan.
"Tidaakk!"
Elena mencoba melepas dasinya, namun dasi itu melilit lehernya sekuat rantai
besi.
Wajah
Shelly muncul dari balik tumpukan dokumen di atas mesin penghancur kertas.
Tangannya yang dingin dan berlendir memegang kepala Elena, memaksanya menatap
ke arah pisau-pisau tajam mesin yang terus berputar.
"Jangan
berhenti, Elena," bisik sosok itu tepat di telinganya. "Kantor ini
tidak butuh jiwamu. Kantor ini butuh... bahan
baku."
Kawat
staples di mulut sosok itu mulai terlepas satu per satu dengan suara ctek-ctek
yang mengerikan, memperlihatkan lubang hitam tak berdasar di balik bibirnya
yang membusuk.
Keesokan
paginya, manajer kantor datang dan menemukan meja Elena sangat rapi. Laporan
akhir tahun sudah selesai tercetak dengan sempurna. Namun, ada yang aneh dengan
tinta printernya; warnanya merah gelap dan berbau besi.
Dan
di sudut ruangan, mesin penghancur kertas tersumbat oleh sesuatu yang
menyerupai rambut panjang dan potongan kulit manusia yang masih hangat.
Pagi
itu, Pak Budi, manajer divisi, memasuki kantor dengan kerutan di dahinya.
"Bau apa ini?" gumamnya, mencium aroma anyir yang menyengat. Matanya
tertuju pada meja Elena, yang tersusun rapi luar biasa. Laporan akhir tahun
yang baru ia periksa terasa dingin di tangannya. Tinta merahnya memang aneh,
tapi Pak Budi menganggapnya efek printer yang rusak.
Namun,
bau anyir itu semakin kuat di dekat mesin penghancur kertas. Pak Budi mendekat,
dan jantungnya mencelos saat melihat gumpalan merah gelap di dalam mesin.
Rambut panjang. Potongan kulit. Sesuatu yang menyerupai gigi manusia.
Ia
segera memanggil polisi.
Inspektur
Rahman datang dengan wajah datar. "Ini bukan yang pertama kali,"
katanya, menatap sekeliling kantor yang mewah namun dingin. "Kantor ini...
punya sejarah."
Saat
penyelidikan berlangsung, sebuah flash drive ditemukan di antara
tumpukan arsip lama di meja Elena. Isinya adalah rekaman video dari kamera
tersembunyi.
Video
pertama menunjukkan Elena, yang masih hidup dan terlihat normal, sedang bekerja
lembur. Lalu, muncul sosok Shelly dengan wajah pucat dan mulut terjahit. Elena berteriak,
panik. Namun, yang mengerikan, di video berikutnya, sosok Shelly tidak lagi
mengejar. Ia justru duduk di samping Elena, membantunya mengetik, sesekali
mengangguk dengan kepalanya yang bergerak patah-patah. Elena, dalam rekaman
itu, terkadang menoleh ke arah Shelly dan tersenyum tipis.
Inspektur
Rahman memutar video terakhir. Kali ini, Elena terlihat sendirian, menatap
kosong ke layar monitor. Ia meraih dasinya, melilitkannya ke lehernya, dan
dengan tenang berjalan ke arah mesin penghancur kertas. Sosok Shelly, yang kini
tampak lebih segar dan tidak pucat, berdiri di sampingnya, tersenyum lebar. Ia
tidak mendorong Elena. Ia hanya mengulurkan tangannya, dan Elena menyambutnya. Elena
melangkah masuk ke dalam mesin, perlahan-lahan.
Pewaris
Beban
"Dia
tidak melawan," kata Inspektur Rahman pelan, menatap Pak Budi.
"Bahkan... seperti rela."
Pak
Budi menelan ludah. "Tapi, kenapa?"
"Shelly
bunuh diri di sini beberapa bulan lalu karena tekanan pekerjaan yang
ekstrem," jelas Rahman. "Kami menemukan surat wasiatnya yang berisi
keluhan tentang target yang tidak realistis dan manajemen yang tidak
berperasaan."
"Itu...
tidak mungkin," bantah Pak Budi. "Kami selalu mengutamakan
kesejahteraan karyawan."
"Benarkah?"
Rahman mengangkat alis. "Kami juga menemukan rekaman CCTV lama. Shelly
sering bekerja sampai pukul 3 pagi. Sendirian."
Sret!
Tiba-tiba,
dari printer di sudut ruangan, keluar selembar foto. Foto itu menampilkan Elena
dan Shelly sedang berdiri bersebelahan, memegang sebuah spanduk bertuliskan: "Lantai
14: Kami Selalu Memberikan yang Terbaik!" Keduanya tersenyum cerah,
namun di belakang mereka, ada bayangan-bayangan samar yang menyerupai puluhan
tangan pucat melambai dari dinding.
"Mereka
berdua tidak pernah sendirian, Pak Budi," kata Inspektur Rahman, matanya
menyipit. "Mereka adalah 'bahan baku' untuk memastikan perusahaan ini
'berjalan dengan baik'. Dan setiap kali satu 'bahan baku' habis, 'bahan baku'
yang lain akan mewarisi tugasnya."
Rahman
menunjuk ke arah Pak Budi. "Anda selalu paling lambat pulang, bukan? Anda
paling sering lembur."
Pak
Budi merasakan hawa dingin menjalari punggungnya. Ia memang sering lembur.
Bahkan, ia merasa anehnya ia merasa nyaman lembur. Seperti ada dorongan
tak terlihat yang membuatnya ingin terus bekerja.
"Mulai
sekarang," kata Rahman, suaranya kini terdengar asing, "Anda adalah manajer
lantai 14 yang baru. Selamat datang di shift malam selamanya."
Pintu
kantor utama tiba-tiba tertutup dengan suara keras. Lampu-lampu di sepanjang
lorong mulai berkedip, lalu padam satu per satu, meninggalkan Pak Budi
sendirian dalam kegelapan yang pekat.
Di
ujung lorong, di dekat kubikel Elena, kini terlihat dua bayangan samar. Satu
dengan dasi. Satu dengan mulut terjahit. Keduanya menatap Pak Budi, dengan
senyum tipis di antara kegelapan.
Dan
suara ketikan keyboard pun terdengar lagi, memulai siklus baru di Lantai 14.
Kegelapan
di Lantai 14 bukan lagi sekadar ketiadaan cahaya, melainkan sesuatu yang hidup
dan bernapas. Pak Budi mencoba meraih gagang pintu, namun tangannya menembus
kayu pintu seolah-olah benda padat itu hanyalah kabut hitam.
"Inspektur?"
suara Pak Budi mencicit.
Ia
berbalik, namun Inspektur Rahman sudah lenyap. Yang tersisa di sana hanyalah
seragam polisi yang tergeletak kempis di lantai, seolah-olah isinya baru saja
diisap keluar. Di atas seragam itu, sebuah kartu identitas tergeletak. Pak Budi
memungutnya dengan tangan gemetar.
Di kartu itu bukan foto Rahman, melainkan foto Pak Budi sendiri dengan keterangan: "Aset No. 001 - Divisi Abadi."
Tiba-tiba,
layar-layar monitor di seluruh ruangan menyala serentak, memancarkan cahaya
biru pucat yang menyakitkan mata. Di setiap layar, muncul wajah seorang pria
tua dengan setelan jas kuno dari era 70-an. Kulitnya kering seperti kertas
perkamen dan matanya hanya berupa lubang hitam yang dalam.
"Laporan
triwulannya, Budi," suara itu mengguntur dari speaker plafon, bercampur
dengan suara rintihan ribuan orang. "Kita tertinggal dari target."
Pak
Budi merasakan kakinya bergerak sendiri. Bukan karena ia ingin, tapi karena
otot-ototnya dipaksa oleh benang-benang tipis tak kasat mata yang menjuntai
dari langit-langit. Ia terseret menuju meja kerja utama. Di sana, Elena dan Shelly
sudah menunggu.
Wajah
Elena kini sudah hancur, sebagian kulit wajahnya hilang karena masuk ke mesin
penghancur kertas, namun ia tetap "bekerja". Jemarinya yang tinggal
tulang mengetuk keyboard dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Setiap
kali ia salah mengetik, stapler otomatis di mejanya akan menjepret punggung
tangannya sendiri sebagai hukuman.
Ctek!
Ctek! Ctek!
"Duduk,"
perintah suara dari monitor.
Pak
Budi terhempas ke kursi manajernya. Saat ia menyentuh kursi itu, kulit jok
kursi yang terbuat dari kulit manusia—yang terasa hangat dan masih
berdenyut—mulai merambat naik, membelit pinggang dan lengannya, menyatukan
tubuh Pak Budi dengan furnitur kantor tersebut.
Ia
menyadari kebenaran yang mengerikan: Perusahaan ini bukanlah sebuah
organisasi bisnis. Ini adalah organisme predator. Gedung ini butuh asupan
berupa ambisi, stres, dan penderitaan manusia untuk tetap berdiri di pusat
kota. Target dan laporan hanyalah ritual untuk memanen energi kehidupan mereka.
"Pak
Budi," Elena menoleh, rahangnya yang menggantung mengeluarkan cairan
merah. "Jangan khawatir. Anda akan terbiasa. Setelah tahun keseratus, Anda
tidak akan merasakan sakit lagi."
Pak
Budi melihat ke jendela besar di belakangnya. Di luar, fajar mulai menyingsing
di Jakarta. Ia melihat dirinya sendiri—versi lain dari dirinya yang terlihat
segar dan bugar—keluar dari mobil di lobi bawah, membawa tas kerja dan
tersenyum menyapa satpam.
"Siapa...
siapa itu?" tangis Pak Budi.
"Itu
adalah 'citra' Anda untuk dunia luar," bisik Shelly, yang kini berdiri di
belakang kursi Pak Budi sambil memegang gunting besar. "Dunia luar hanya
butuh hasil kerja Anda. Jiwa dan rasa sakit Anda? Itu milik kantor ini."
Shelly
mulai menggunting kulit punggung Pak Budi dengan rapi, seolah sedang membuka
amplop surat. Ia mengambil selembar kertas kosong dan menempelkannya ke daging
mentah Pak Budi. Ajaibnya, kertas itu langsung terisi dengan data-data keuangan
yang akurat, ditulis dengan darah sebagai tintanya.
Pak
Budi ingin berteriak, tapi suaranya telah dicuri untuk menjadi nada tunggu
telepon di lobi.
Saat
karyawan-karyawan baru mulai berdatangan di pagi hari, mereka hanya melihat Pak
Budi yang ramah di ruangannya. Mereka tidak tahu bahwa di dimensi yang sedikit
bergeser, di kursi yang sama, Pak Budi yang asli sedang menjerit tanpa suara,
tubuhnya perlahan-lahan dicerna oleh gedung itu, menjadi bagian dari fondasi
Lantai 14 yang abadi.

0 Komentar