Mortis
Global Solutions
tidak menjual produk fisik. Mereka menjual "Kepastian". Sebagai
perusahaan Analisis Data & Prediktif Global, mereka mereduksi
perilaku manusia menjadi angka. Slogan mereka yang terpampang di lobi, "Mengoptimalkan
Kemanusiaan untuk Hari Esok yang Terprediksi", terdengar prestisius
bagi dunia luar. Namun, bagi mereka yang berada di Lantai 14,
"mengoptimalkan" berarti memeras esensi kehidupan hingga kering.
Elena
adalah bagian dari divisi Data Cleansing. Tugasnya terdengar teknis:
membersihkan "error" dalam sistem. Ia tidak menyadari bahwa
"error" tersebut adalah sisa-sisa kenangan manusia dari karyawan yang
telah mati, yang harus dihapus agar server bio-energi perusahaan tetap stabil.
Awal sebuah
kehancuran.
Elena
masuk ke perusahaan tersebut, Mortis Global Corp, tiga tahun lalu
sebagai Rising Star. Ia adalah wanita ambisius yang haus akan pengakuan.
Baginya, pekerjaan bukan sekadar mata pencaharian, melainkan identitas.
Saat
wawancara akhir, Elena tidak bertemu di ruang rapat, melainkan di sebuah
ruangan remang-remang di Lantai 14 bersama seorang direktur yang wajahnya
selalu tertutup bayangan.
Direktur itu tidak bertanya tentang kemampuannya, melainkan tentang kesepiannya. "Kamu tidak punya siapa-siapa di kota ini, bukan? Tidak ada yang menunggumu di rumah?" tanya sang direktur. Elena mengangguk, merasa dipahami. Perusahaan menjanjikan bahwa mereka akan menjadi "keluarganya".
Kontrak
Abadi: Halaman 400
Elena
menandatangani kontrak kerja menggunakan tablet digital. Saat ujung jarinya
menyentuh layar, ia merasakan sengatan listrik kecil, namun ia mengabaikannya.
Ia tidak menyadari bahwa salah satu poin di halaman 400 (yang sengaja dibuat
sangat panjang) berbunyi:
"Karyawan
setuju untuk memberikan seluruh sisa waktu, dedikasi, dan esensi fisiknya
kepada Perusahaan apabila produktivitas menurun di bawah standar yang
ditetapkan oleh Algoritma Abadi."
Shelly
adalah mentor Elena. Awalnya mereka dekat, namun perusahaan mulai meng adu-domba
mereka melalui sistem poin. Siapa yang pulang paling akhir akan mendapatkan
"Bonus Kehidupan". Elena yang kompetitif mulai sengaja tinggal lebih
lama, mematikan lampu di meja Shelly agar Shelly terlihat kurang rajin, dan
tanpa sadar membantu "sistem" untuk memangsa Shelly lebih cepat.
Elena
melihat Shelly mulai berubah—kulitnya mengering, bicaranya melantur—tapi Elena
justru merasa bangga karena ia tetap segar. Ia tidak tahu bahwa ia hanya sedang
"dipupuk" sebelum akhirnya dipanen.
Malam
saat Shelly "menghilang", Elena menemukan sebuah amplop di mejanya.
Isinya adalah surat promosi menjadi Senior Executive. Namun, di bawah
tanda tangan tersebut, terdapat catatan kecil: "Dibutuhkan pengganti
untuk ruang kosong di bawah meja manajer."
Malam
itu, saat Elena sedang merayakan promosinya sendirian dengan bekerja lembur, ia
melihat bayangan Shelly merangkak dari plafon. Alih-alih merasa takut, untuk
sesaat Elena merasa bersalah. Rasa bersalah itulah yang menjadi pintu masuk
bagi gedung tersebut untuk mematahkan mentalnya secara total
Kantor
sudah sepi. Hanya ada Elena dan suara pendingin ruangan yang mendengung rendah.
Di hadapannya, sebuah tablet perusahaan menyala, menampilkan dokumen
"Pembaruan Kebijakan Kesejahteraan Karyawan".
Elena
baru saja mendapatkan bonus pertamanya. Ia merasa tak terkalahkan. Namun,
sebuah glitch pada tablet itu membuatnya bisa menggulir layar lebih
cepat dari biasanya—melewati ratusan halaman jargon hukum yang
membosankan—hingga ia berhenti di Halaman 400.
Teks
di halaman itu tidak berwarna hitam. Warnanya merah kecokelatan, seperti darah
kering yang dipindai ke dalam format PDF.
Pasal
13, Ayat 4: Integrasi Aset Hidup.
"Pihak Kedua (Karyawan) memahami bahwa efisiensi adalah bentuk tertinggi
dari keberadaan. Apabila tubuh biologis Pihak Kedua tidak lagi mampu memenuhi
kuota lembur yang ditetapkan, Perusahaan berhak melakukan 'Ekstraksi Esensi'
untuk memastikan operasional tetap berjalan tanpa hambatan fisik."
Dahi
Elena berkerut. "Ekstraksi Esensi? Apa-apaan ini?" gumamnya.
Ia
mencoba menutup dokumen itu, tapi jarinya seolah lengket pada layar kaca
tablet. Tiba-tiba, muncul jendela pop-up yang memenuhi layar:
[ANDA TERLIHAT BINGUNG, ELENA. APAKAH ANDA INGIN KAMI MENJELASKANNYA?]
Bukan
suara asisten digital biasa yang menjawab, melainkan suara yang keluar dari speaker
ponselnya sendiri, yang saat itu sedang mati. Suara itu terdengar persis
seperti suara ibunya.
"Elena,
sayang... bukankah kamu selalu ingin menjadi yang terbaik?"
Elena
tersentak, melepaskan tablet itu hingga jatuh ke meja. Namun, tablet itu tidak
pecah. Sebaliknya, layar tablet itu mulai melunak seperti cairan. Cairan hitam
dari layar itu merayap keluar, membentuk tangan-tangan kecil yang mulai menarik
ujung lengan kemeja Elena.
"Siapa
ini? Ini lelucon IT, kan?" suara Elena bergetar.
Ia
menoleh ke arah jendela besar yang memantulkan bayangannya. Di dalam pantulan
itu, Elena melihat dirinya sendiri sedang duduk tegak, namun di belakang
kursinya, berdiri sosok Direktur Bayangan. Tangan sang Direktur yang panjang
dan kurus sedang mengelus rambut Elena dalam cermin.
"Jangan
baca terlalu banyak, Elena," bisik pantulan dirinya di cermin, meskipun
bibir Elena yang asli terkatup rapat. "Cukup bekerja saja. Biarkan kami
yang mengurus sisa hidupmu yang... tidak produktif itu."
Tiba-tiba,
lampu di atas meja Elena padam. Saat menyala kembali sedetik kemudian, cairan
hitam di meja sudah hilang. Tablet itu kembali menampilkan halaman depan dengan
tulisan: "Terima Kasih Telah Setuju."
Elena
memeriksa riwayat dokumennya. Halaman 400 telah hilang. Dokumen itu kini hanya
berjumlah 399 halaman.
Sejak
malam itu, Elena tidak pernah bisa tidur lebih dari tiga jam. Setiap kali ia
mencoba memejamkan mata, ia mendengar suara mesin fotokopi yang bekerja di dalam
kepalanya, mencetak ulang kontrak yang tak bisa ia batalkan itu, baris demi
baris, langsung ke dalam ingatannya.
Elena
merasa sesak. Ia harus keluar. Sambil membawa tablet itu dengan tangan gemetar,
ia berlari menuju Lantai 12—lantai Human Resources Department (HRD). Ia
berharap ada logika manusia yang bisa menjelaskan kegilaan di Halaman 400.
Lantai
12 sangat dingin, jauh lebih dingin dari Lantai 14. Suasananya putih bersih,
namun bau pembersih lantainya begitu menyengat hingga membuat matanya perih. Di
ujung lorong, pintu kantor Kepala HRD, Bu Lastri, terbuka sedikit.
Elena
masuk tanpa mengetuk. "Bu Lastri, saya perlu bicara soal kontrak digital
saya. Ada yang salah dengan sistemnya, ada teks yang—"
Elena
terhenti.
Bu
Lastri sedang duduk di balik meja besarnya yang mengkilap. Namun, ia tidak
sedang mengetik atau membaca. Bu Lastri sedang memegang sebuah obeng panjang
yang ia masukkan ke dalam lubang di telinga kirinya. Dengan gerakan tenang, ia
memutar obeng itu seperti sedang menyetel mesin.
Krek...
Krek... Kret...
"Ah,
Elena," kata Bu Lastri tanpa menoleh, suaranya terdengar datar dan
bergetar, seperti suara radio yang tidak pas frekuensinya. "Kamu menemukan
Halaman 400, ya?"
Bu
Lastri berbalik. Wajahnya terlihat sempurna, terlalu sempurna hingga menyerupai
maneken plastik. Namun, saat ia tersenyum, kulit di sudut bibirnya pecah dan
memperlihatkan kabel-kabel tembaga kecil yang berseliweran di dalamnya.
"Kami
tidak menyebutnya 'kesalahan sistem', Elena. Kami menyebutnya 'transparansi
bertahap'," kata Bu Lastri. Ia berdiri, dan Elena mendengar suara
sendi-sendi logam yang bergesekan di balik rok span wanita itu.
"Apa
yang terjadi pada Anda?" bisik Elena, melangkah mundur hingga menabrak
pintu yang tiba-tiba terkunci.
"Aku?" Bu Lastri tertawa, suara tawa yang terdiri dari rekaman suara tawa ribuan orang yang digabung menjadi satu. "Aku adalah karyawan teladan tahun 1998. Aku memberikan segalanya untuk perusahaan ini, dan sebagai imbalannya, perusahaan memberiku keabadian fungsional."
Bu
Lastri mendekat. Ia menarik paksa tablet dari tangan Elena. Jarinya yang kaku
menyentuh layar, dan seketika itu juga, data di layar berubah menjadi grafik
detak jantung Elena.
"Lihat ini, Elena. Detak jantungmu meningkat saat lembur. Hormon stresmu... oh, ini kualitas premium. Perusahaan bisa mengubah stres ini menjadi listrik untuk menghidupkan server selama seminggu."
"Saya
ingin mengundurkan diri," tegas Elena, suaranya pecah.
Bu Lastri terdiam sebentar, kepalanya miring ke samping dengan sudut yang mustahil bagi leher manusia. "Mengundurkan diri? Tentu saja boleh. Silakan ambil formulir pengunduran diri di laci bawah."
Elena, yang didera rasa takut bercampur harapan, segera membuka laci bawah meja Bu Lastri. Namun, di dalam laci itu tidak ada kertas. Hanya ada sebuah toples kaca berisi sebuah jantung manusia yang masih berdenyut lemah, terhubung dengan kabel USB ke komputer pusat.
Di label toples itu tertulis: "SHELLY - SURAT RESIGN YANG DISETUJUI."
"Resign
di sini berarti memisahkan beban kerja dari beban tubuh," bisik Bu Lastri
tepat di telinga Elena. "Tubuhmu boleh pulang, Elena. Tapi esensimu,
produktivitasmu, dan rasa sakitmu... mereka sudah terikat kontrak untuk tinggal
di sini."
Bu
Lastri kemudian menyentuh dahi Elena dengan jarinya yang sedingin es.
"Sekarang, kembali ke mejamu. Ada laporan yang harus selesai sebelum
fajar. Jika tidak, kami harus mengambil 'formulir' darimu lebih awal."
Elena
keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai. Ia menyadari satu hal yang lebih
mengerikan daripada hantu: di perusahaan ini, tidak ada setan yang bersembunyi
di kegelapan. Setannya adalah sistem, birokrasi, dan kontrak yang sudah ia
setujui dengan keserakahannya sendiri akan kesuksesan.
Game
Over? Tidak, ini adalah Loop Abadi
Jam
di dinding menunjukkan pukul 21.55.
Elena
tersentak bangun di mejanya. Ia merasa baru saja melewati sebuah mimpi buruk
yang sangat panjang tentang mesin penghancur kertas dan Bu Lastri. Namun, saat
ia melihat ke layar monitornya, sebuah jendela chat internal muncul.
Pengirim:
Manajer Divisi (Budi)
"Elena, laporannya. Sekarang. Jangan membuat saya datang ke sana."
Elena
gemetar. Ia merasa ada yang aneh dengan pesan itu. Ia memberanikan diri
berjalan ke ruang manajer di ujung lorong. Saat pintu terbuka, bau busuk yang
ia kenal di mimpinya menyeruak.
Ia
tidak melihat Pak Budi yang ramah. Ia melihat sebuah kursi manajer yang besar,
namun kursi itu memiliki mata. Kulit jok kursi itu telah menyatu sempurna
dengan punggung dan lengan Pak Budi. Pak Budi tidak lagi duduk di atas kursi; ia
adalah kursi itu.
"Pak...
Budi?" bisik Elena.
Wajah
Pak Budi yang tertanam di sandaran kursi itu menoleh dengan kaku. "Elena...
ini sudah putaran ke-10.000 bagi kita. Kenapa kamu masih saja datang ke sini
untuk bertanya?"
Pak
Budi kemudian tertawa, sebuah suara yang keluar dari lubang-lubang di pori-pori
kulit kursi. "Saya adalah infrastruktur sekarang. Saya menopang berat
beban kerja lantai ini secara fisik. Dan kamu... kamu adalah bahan
bakarnya."
Tiba-tiba,
layar-layar di seluruh kantor menyala, menampilkan wajah Bu Lastri yang
tersenyum statis. "Sinkronisasi dimulai dalam 4 menit," suara Bu
Lastri bergema.
Elena
menyadari kebenaran yang paling pahit. Pak Budi terjebak dalam Penyiksaan
Fisik (menjadi furnitur yang menopang gedung), sementara Elena terjebak
dalam Penyiksaan Mental (merasakan ketakutan akan kematian yang sama
berulang kali).
Setiap
kali jam menunjukkan pukul 22.00, Elena akan ditarik oleh dasinya ke
mesin penghancur kertas. Ia akan merasakan sakitnya pisau itu mencacah
tubuhnya, dan tepat saat ia akan mati, server Mortis akan menyerap lonjakan
energi ketakutannya yang murni, lalu melakukan system restore.
"Sampai
jumpa di pukul 21.55 berikutnya, Elena," bisik kursi yang merupakan Pak
Budi itu.
Lampu
sensor padam. Dasi Elena mulai tertarik.
Di
lobi bawah, "Elena yang Lain" dan "Pak Budi yang Lain" baru
saja keluar dari lift setelah lembur, menyapa satpam dengan senyum palsu, dan
pulang ke rumah yang kosong. Sementara di Lantai 14 yang tersembunyi dari
realita, jeritan Elena pecah tepat saat jarum jam menyentuh angka 12, menjadi
detak jantung bagi mesin algoritma Mortis Global yang tak pernah tidur.
21.55. Elena tersentak bangun di
mejanya. Ia merasa baru saja melewati sebuah mimpi buruk...

0 Komentar